Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Orang Kristen Puji Kepedulian Presiden India Terhadap Para Napi

Presiden India Droupadi Murmu

RENUNGANHARIANKATOLIK.WEB.ID - Para pemimpin Kristen memuji seruan Presiden India Droupadi Murmu agar pemerintah federal dan pengadilan menangani masalah kepadatan penjara di negara itu.

Berbicara pada perayaan Hari Hukum Nasional yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung di New Delhi pada 26 November, Presiden Murmu mempertanyakan apakah India bergerak menuju kemajuan dengan rencana membangun lebih banyak penjara.

Dia mengenang pengalamannya sendiri sebagai gubernur sebuah provinsi dan aktivis politik untuk menyoroti masalah meningkatnya jumlah orang yang menunggu diadili dan yang mendekam di penjara dan biaya pengadilan litigasi yang mahal.


$ADS={1}

Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri, jumlah narapidana (napi) di penjara menurun 9,5 persen antara tahun 2016-2021, namun para napi yang menunggu atau diadili meningkat 45,8 persen.

Dalam laporan lain berjudul “Statistik Penjara India 2021”, Biro Catatan Kejahatan Nasional mengatakan sebanyak 554.034 napi ada di penjara di seluruh negeri itu hingga 31 Desember, dengan 427.165 (77 persen) dari mereka diadili atau sedang menunggu. Sebagian besar dari mereka berasal dari latar belakang miskin.

Dalam pidatonya, presiden mendesak semua cabang pemerintahan – eksekutif, yudikatif, dan legislatif – membuat mekanisme hukum yang efektif untuk memberikan keadilan yang lebih cepat sehingga mengurangi kepadatan penjara dan penderitaan yang ditimbulkannya.


$ADS={2}

“Kami senang bahwa masalah ini diangkat tidak lain oleh presiden India. Kami menyambutnya dan berterima kasih padanya atas kepeduliannya terhadap orang miskin dan tertindas di negara kami,” kata Pastor Francis Kodiyan, salah satu pendiri Pelayanan Penjara India (PMI) yang dikelola Gereja, kepada UCA News pada 30 November.

Pastor Kodiyan mengatakan penjara-penjara di India sangat padat dan tidak memiliki

fasilitas kesehatan dan kebersihan yang memadai.

“PMI memberikan bantuan hukum dan keuangan kepada orang-orang yang membutuhkan tetapi bantuan itu tidak cukup karena jumlahnya sangat tinggi. Kecuali jika pemerintah turun tangan, akan sangat sulit untuk mengatasi masalah ini,” kata imam itu.


$ADS={1}

Imam Kongregasi Misionaris Sakramen Maha Kudus (MCBS) itu mengatakan alasan utama penjara yang padat adalah orang miskin yang dikirim ke penjara karena pelanggaran kecil yang dapat ditangani melalui denda kecil daripada membuat mereka mendekam di penjara karena mereka tidak dapat mengakses atau membayar hukum.

Pastor Vijay Kumar Nayak, sekretaris Kantor Dalit dan Kelas Bawah Konferensi Waligereja India, mengatakan kepada UCA News bahwa “ketika kami mengatakan mereka yang menunggu persidangan adalah orang miskin, dapat dipahami bahwa mereka berasal dari Dalit, sebuah kelompok suku dan minoritas.”

Pastor Nayak mengatakan kelompok ini telah mengalami penindasan selama beberapa tahun dan ada prasangka buruk di masyarakat bahwa mereka cenderung melakukan kejahatan.


$ADS={2}

“Jelas bahwa mereka ada [di penjara] karena buta huruf dan kemiskinan, dan polisi bias terhadap mereka,” tambah imam itu.

Pastor Nayak berharap presiden India, yang menyampaikan keprihatinannya, akan menggerakkan pemerintah federal dan peradilan untuk bertindak dan memberikan keadilan kepada orang miskin.

[UCA NEWS]