Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Meraih Penantian Yang Berdasar di Masa Adven

Rasa rindu dalam penantian dalam masa Adven menjadi perasaan yang menghinggapi orang-orang Katolik.

RENUNGANHARIANKATOLIK.WEB.ID - Jangan merindu, karena rindu itu berat. Begitulah kalimat yang meluncur dari mulut Dilan kepada Milea dari ujung sebuah telepon umum. Kalimat ini lalu jadi viral di kalangan orang kasmaran, selepas Film Dilan 1990 diluncurkan.

Kalimat sederhana ini memberikan definisi tentang arti kerinduan, yang membuat orang jadi berat ketika menanggungnya. Namun, sungguhkah rindu itu memberatkan?

Rindu merupakan perasaan yang kerap timbul ketika orang sedang menanti atau pun menunggu. Rindu ialah perasaan yang tepat ketika orang berada dalam status menunggu. Karena menunggu itu kadang membuat orang bosan, maka rindu adalah ekspresi pengisi ruang kosong akibat ketiadaan atau belum hadirnya hal yang dinantikan.

Khalil Gibran (1883), penyair mashyur kelahiran Lebanon cukup baik menggambarkan hal ini. Ia melukiskan kerinduan laksana gambaran jiwa yang terluka, bagai langit menatap sendu, kala bias cinta yang menghilang.

Rasa rindu inilah yang dalam hari-hari ini dan ke depannya menjadi perasaan yang menghinggapi orang-orang Katolik.


$ADS={1}

Perasaan ini timbul karena kita telah memasuki masa Adven. Adven—berasal dari prefiks ´ad` (to dalam bahasa Inggris) dan ‘vinere‘ (come) yang kemudian disambung menjadi kata adventus (arrival)—dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kedatangan. Kata ini merupakan terjemahan dari bahasa Yunani Parousia.

Penantian Dua Hal

Penantian dalam konteks ini dapat diartikan sebagai masa penantian orang Katolik akan dua hal. Pertama, penantian akan kedatangan sang bayi Yesus di hari Natal. Kedua, penantian akan kedatangan kembali Yesus untuk kedua kalinya sebagai raja di akhir zaman (britanica.com)

Momentum penantian ini tentunya diwarnai oleh kerinduan. Namun, hal penting pada momen kerinduan ini ialah bahwa hendaknya tidak dibiarkan menjadi kerinduan yang kosong. Kerinduan dan penantian masa Adven mesti diisi dengan hal-hal berguna.

Berkaitan dengan hal ini, saya tertarik dengan khotbah seorang Pastor missionaris dari Papua New Guinea (PNG) yang kebetulan sedang liburan.

Beliau berkhotbah di Paroki tempat saya menghadiri misa di hari Minggu pertama Adven, bahwa masa penantian ini bisa diisi dengan tiga hal.

Pertama, mempelajari dan mengevaluasi lagi Sepuluh Perintah Allah, Lima Perintah Gereja.


$ADS={2}

Kedua, mempelajari kembali Tujuh Sakramen Gereja.

Ketiga, melakukan tindakan silih untuk memantapkan persiapan diri di masa Adven ini.

Menginteprestasi lebih jauh homili beliau, tiga ajakan ini merupakan ajakan sederhana. Namun, ajakan ini merupakan hal penting untuk dilaksanakan di masa adven ini.

Alasannya, tindakan pertama tentu merupakan ajakan untuk mengingat kembali dasar-dasar kewajiban dan arah hidup sebagai orang beriman Katolik, bahwa ada ketetapan yang mesti ditaati yang menjadi penjaga moral, etika, dan tindakan kita sebagai orang Katolik.

Ajakan kedua tentang sakramen bertujuan mengingatkan kita bahwa tanda dan sarana sebagai rahmat keselamatan yang telah kita terima dari Tuhan, mesti berbuah untuk kehidupan kita dan orang lain (Katekismus Gereja Katolik, 1992:81).

Perumpaan tentang mina yang dibagikan oleh seorang tuan bagi hamba-hambanya mungkin bisa menjadi perbandingan yang baik (bdk. Luk, 19:11) bahwa semakin banyak kita menerima harus membuat kita mengembangkannya sehingga bisa berbuah.

Buah-buah inilah yang mestinya kita bagikan sehingga bisa menjadi rahmat juga bagi orang lain. Paralelnya, makin banyak menerima harus membuat kita makin banyak memberi.


$ADS={1}

Ajakan terakhir adalah peningat bahwa segala bentuk pertobatan dan persiapan jalan bagi Tuhan, seperti sering diserukan oleh Yohanes (bdk, Mkr 1:2), mesti diikuti dengan tindakan konkret sebagai pelengkapnya.

Dengan kata lain, bertobat, bukan hanya diucapkan dengan kata-kata tetapi ada tindakan dan amal yang mesti dibuat.

Pekerjaan-perkerjaan kerohanian ataupun sosial sederhana bisa dilakukan untuk menngkonkretkan hal ini.

Tiga hal tersebut paling kurang mampu menciptakan atmosfer Adven yang lebih kondusif dan tentunya makin bermakna.


$ADS={2}

Kondisi ini pula yang membuat masa Adven ini sanggup diraih oleh orang Katolik sebagai masa penantian yang mendasar. Sebab, ada usaha membangun dasar penantian yang baik dalam masa Adven ini.

Jika hal-hal tersebut sanggup diwujudkan oleh orang Katolik, maka berlawanan dengan kata-kata Dilan di awal tadi: merindu di masa Adven, ia tidak akan berat, karena banyak hal baik yang bisa dilakukan dalam rindu dan penantian itu.

[KATOLIKANA]