Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Aktivis dan Umat Katolik Protes Pembangkit Listrik Batubara terbaru di Korsel

Anak-anak bergabung dengan para aktivis iklim Katolik di Seoul untuk menuntut penutupan Pembangkit Listrik Samcheok Blue. (Foto: CPBC)

RENUNGANHARIANKATOLIK.WEB.ID - Para aktivis Katolik yang bergabung dengan aktivis lingkungan dan kelompok masyarakat sipil mengadakan demonstrasi di Seoul, ibu kota Korea Selatan, untuk mendesak pemerintah menutup pembangkit listrik tenaga batubara terbaru di negara itu dan memberlakukan undang-undang penghapusan batubara.

Kelompok Aksi Iklim Katolik, Solidaritas Pelestarian Ciptaan Katolik, dan kelompok masyarakat sipil berdemonstrasi di depan gerbang utama Majelis Nasional pada 23 November untuk menyuarakan keprihatinan mereka, lapor Catholic Peace Broadcasting Corporation (CPBC).

Para pengunjuk rasa bergabung dengan anak-anak.

Demonstrasi itu terjadi saat pemerintah berusaha memulai operasi Unit-1 Pembangkit Listrik Samcheok Blue di dekat kota Samcheok di Provinsi Gangwon pada 30 November.

Seorang pengunjuk rasa berusia 6 tahun, Hannah Kim, meminta para anggota parlemen untuk menghentikan proyek yang akan semakin memperburuk lingkungan di Samcheok.

“Pembangkit listrik batubara akan mengeluarkan banyak gas rumah kaca dan debu halus, yang akan membuat bumi yang masih sakit menjadi semakin sakit,” kata Kim.

“Aku benci melihat langit hitam dan laut hitam. Tolong selamatkan bumi untuk saya dan teman-teman saya untuk hidup,” tambahnya.

Dia memegang sebuah poster yang dilukis dengan tangan mengenai pantai dan laut Maengbang yang terkenal di Samcheok yang menghadapi erosi akibat operasi pembangkit listrik.

Para pemerhati lingkungan mengatakan proyek pembangkit listrik itu dapat menyebabkan pantai akan menghilang karena pembangunan dermaga apung yang dirancang untuk memasok batubara ke pembangkit tersebut.

Hingga November 2021, pembangkit tersebut telah selesai sekitar 50 persen, dengan target penyelesaian pada April 2024.

Kakak laki-laki Hannah, Nathan, juga menyuarakan protesnya terhadap raksasa pabrik baja Pohang Iron and Steel Company (POSCO) yang juga memiliki pembangkit listrik batubara.

Dia mengatakan: “Kami harus hidup di planet yang telah dicemarkan oleh orang dewasa. Kami, pemilik bumi, teriaknya. POSCO… segera berhenti bekerja di pembangkit listrik batubara!”

Pada hari yang sama dalam sebuah konferensi pers bersama para aktivis lain Suster Cho Kyung-ja, ketua bersama kelompok Aksi Iklim Katolik, membacakan pernyataan bersama yang menunjukkan penderitaan masyarakat Samcheok setelah pembangkit listrik itu mulai beroperasi.

“Pemerintah dan DPR menutup mata dan telinga terhadap isu pembangunan PLTU Batubara yang mendesak, bahkan sambil berteriak-teriak untuk menanggapi krisis iklim dan pengurangan pembangkit listrik batubara.”

Sementara dunia politik menutup mata, asap hitam mulai mengepul dari cerobong pembangkit listrik yang berjarak kurang dari 5 kilometer dari pusat kota Samcheok mulai minggu depan,” bunyi pernyataan itu.

Para aktivis juga menyatakan setelah pembangkit listrik mulai beroperasi, “penurunan kesehatan penduduk akibat emisi polusi udara dan gas rumah kaca tidak dapat dihindari.”

Sebelumnya, para aktivis telah mengajukan petisi untuk pengesahan UU Penghapusan Batubara dengan sekitar 50.000 tanda tangan ke Majelis Nasional pada 30 September.

Setelah itu, pada demonstrasi di Komisi Industri pada 21 November sebuah petisi mengajukan pemberlakuan Undang-Undang Penghapusan Batubara, tetapi rincian tentang pembahasan lebih lanjut tentang masalah tersebut belum diputuskan.

Rasio pembangkit listrik dengan sumber energi dalam negeri tertinggi untuk batubara sebesar 38,7 persen tahun 2020, diikuti oleh tenaga nuklir sebesar 27,3 persen, dan gas alam sebesar 25,8 persen, menurut data International Energy Agency (IEA).

Hanya 7,1 persen listrik dihasilkan dari sumber energi terbarukan yang meliputi air, energi matahari, angin, biofuel, dan lain-lain. Minyak yang digunakan untuk pembangkit listrik hanya 1,1 persen dari total.

Hingga Maret 2022, total 57 pembangkit listrik termal beroperasi di Korea Selatan, dan empat pembangkit listrik tenaga batubara baru sedang dibangun di daerah Gangwon yang mencakup Samcheok.

Saat ini, Korea Selatan memiliki 38,1 gigawatt (GW) pembangkit listrik batubara yang beroperasi dan 4,2 GW sedang dibangun.

Pemerintahan Yoon Suk-yeol telah merevisi target pemerintahan Moon Jae-in sebelumnya untuk menghasilkan 70 persen pasokan energi dari sumber terbarukan sebagai tidak realistis dan malah mengalihkan fokus untuk memulihkan tenaga nuklir dan meningkatkan keamanan energi.

[UCANEWS]