Renungan Harian Katolik Sabtu 23 Juli 2022

Renungan Harian Katolik Sabtu 23 Juli 2022 Peringatan fakultatif St. Birgitta Warna Liturgi Hijau. Bacaan Injil: Mat. 13:24-30
Renungan Harian Katolik Sabtu 23 Juli 2022

Renungan Harian Katolik Sabtu 23 Juli 2022 Peringatan fakultatif St. Birgitta Warna Liturgi Hijau.

Bacaan Pertama: Yer. 7:1-11

Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3.4.5-6a.8a.11

Bait Pengantar Injil: Alleluya

Bacaan Injil: Mat. 13:24-30

{tocify} $title={Daftar isi Bacaan}

Bacaan Pertama: Yer. 7:1-11

Tuhan bersabda kepada Yeremia, “Berdirilah di pintu gerbang rumah Tuhan. Serukanlah di sana sabda ini dan katakanlah, ‘Dengarkanlah sabda Tuhan, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada Tuhan! Beginilah sabda Tuhan semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkah dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama kalian di tempat ini.

Jangan percaya kepada perkataan dusta, ‘Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!’ Hanya apabila kalian sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkah dan perbuatanmu, apabila kalian sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kalian sendiri, tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain yang menjadi kemalanganmu sendiri,

maka Aku mau diam bersama kalian di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, sejak dahulu kala sampai selama-lamanya. Tetapi ternyata kalian percaya kepada perkataan dusta yang tidak memberi faedah. Masakan kalian mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar kurban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kalian kenal,

lalu kalian datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata, ‘Kita selamat’, agar dapat melanjutkan segala perbuatan yang keji itu! Sudahkan menjadi sarang penyamun rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Aku, Aku melihat sendiri semuanya itu!”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3.4.5-6a.8a.11

Ref. Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam.

  1. Jiwaku merana karena merindukan pelataran rumah Tuhan; jiwa dan ragaku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.
  2. Bahkan burung pipit mendapat tempat dan burung laying-layang mendapat sebuah sarang, tempat mereka menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu ya Tuhan semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!
  3. Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, yang memuji-muji Engkau tanpa henti. Berbahagialah para peziarah yang mendapat kekuatan dari pada-Mu. Langkah mereka makin lama makin tinggi.
  4. Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik.

Bait Pengantar Injil: Alleluya

Ref. Alleluya

Terimalah dengan lemah lembut sabda yang tertanam dalam hatimu, yang mampu menyelamatkan jiwamu. Alelluya.

Bacaan Injil: Mat. 13:24-30

Pada suatu hari Yesus membentangkan suatu perumpamaan kepada orang banyak, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya, menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.

Ketika gandum tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu dan berkata kepadanya, ‘Tuan, bukankah benih baik yang Tuan taburkan di ladang Tuan?

Dari manakah lalang itu?’ Jawab tuan itu, ‘seorang musuh yang melakukannya!’ Lalu berkatalah para hamba itu, ‘Maukah Tuan, supaya kami pergi mencabuti lalang itu?’ Tetapi ia menjawab, ‘Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kalian mencabut lalangnya.

Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai, ‘Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandumnya ke dalam lumbungku’.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Sabtu 23 Juli 2022

Kisah ini menceritakan tentang seorang pria dan wanita yang sudah menikah yang memilih untuk terlibat dalam hubungan perzinahan. Tidak salah lagi bahwa kehendak Tuhan bagi mereka berdua adalah untuk tidak terlibat dalam hubungan yang penuh dosa itu. Namun, mereka mengabaikan kehendak Tuhan untuk memuaskan keinginan mereka yang penuh nafsu, tak tahu malu, jahat dan kebinatangan.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa ada orang yang memilih untuk melawan kehendak Tuhan. Alih-alih menjalani hidup yang selaras dengan keinginan Tuhan, mereka menjalaninya sesuai dengan apa yang mereka inginkan meskipun yang mereka inginkan adalah dosa.

Karena itu, dalam mengejar apa yang mereka inginkan, mereka membenamkan diri ke dalam dosa. Dengan demikian, mereka menjadi perwakilan penjualan atau iklan berjalan iblis di dunia ini.

Namun, mengapa Tuhan mengizinkan dosa? Mengapa Dia membiarkannya ada dan dalam prosesnya membuat suhu atau bahkan menghancurkan kita? Kapan Dia dapat dengan mudah menghilangkannya dari lingkungan kita?

Jangan sampai kita lupa bahwa Tuhan kita bukanlah Tuhan yang diktator. Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih dan bagian dari kasih Tuhan itu adalah memberi kita kehendak bebas untuk memilih sendiri apa yang ingin kita lakukan di dunia ini.

Tuhan memiliki tujuan untuk membiarkan dosa ada yang bagi kita untuk menghindari, menghadapi dan menghilangkannya. Kita harus ingat bahwa berdasarkan baptisan kita, kita menjadi perpanjangan tangan Yesus di dunia ini.

Oleh karena itu, Yesus mengharapkan kita tidak hanya untuk menghindari, tidak hanya untuk menghadapi, tetapi untuk segera menetralisir dosa begitu dosa itu mengangkat kepalanya yang licik.

Bagaimana jika mereka tidak mau atau kita tidak akan berhenti berbuat dosa? Kita harus bersiap untuk banyak konsekuensinya termasuk kematian. Dalam Alkitab, surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma memberitahu kita bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23).

Dan Yesus menyinggung hukuman berat ini dalam Injil dengan mengatakan: “Kumpulkan lalang dan ikat dalam ikatan untuk dibakar.” (Matius 13:30). Namun demikian, mengapa harus mengalami upah dosa yang sangat menyakitkan ketika kita dapat menghadapi dan melenyapkannya dengan segera?

Demikianlah Renungan Harian Katolik Sabtu 23 Juli 2022.