Renungan Harian Katolik Rabu 20 Juli 2022

Renungan Harian Katolik Rabu 20 Juli 2022 Peringatan fakultatif St. Apolinaris Warna Liturgi Hijau. Bacaan Injil: Mat. 13:1-9 Bacaan Pertama: Yer. 1:1
Renungan Harian Katolik Rabu 20 Juli 2022

Renungan Harian Katolik Rabu 20 Juli 2022 Peringatan fakultatif St. Apolinaris Warna Liturgi Hijau.

Bacaan Pertama: Yer. 1:1,4-10

Mazmur Tanggapan: Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17

Bait Pengantar Injil: PS 957

Bacaan Injil: Mat. 13:1-9

{tocify} $title={Daftar isi Bacaan}

Bacaan Pertama: Yer. 1:1,4-10

Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin. Firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." Tetapi Tuhan berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.

Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan." Lalu Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; Tuhan berfirman kepadaku: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.

Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam."
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17

Ref. Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang.

  1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!
  2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri; sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku. Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik.
  3. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku sejak muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.
  4. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu, dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari-Mu. Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.

Bait Pengantar Injil: PS 957

Ref. Alleluya, alleluya.

Benih melambangkan sabda Allah, penaburnya ialah Kristus. Semua orang yang menemukan Kristus, akan hidup selama-lamanya.

Bacaan Injil: Mat. 13:1-9

Pada suatu hari, Yesus keluar dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.

Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Rabu 20 Juli 2022

Berdasarkan perikop ini, harapan kita tentu saja menjadi bagian dari tanah yang baik dan kemudian menghasilkan buat seratus kali lipat. Kiranya tidak ada orang yang mau menjadi tanah yang pertama dan kedua.

Impian dan harapan semua orang adalah berbuah yang berlipat-lipat. Namun kenyataannya sering kali kita masih berhenti pada tanah yang pertama dan kedua, belum sampai pada tanah yang baik yang menghasilkan buah.

Jangankan untuk berbuah, untuk bertahan hidup saja sering kali harus berjuang setengah hidup, setengahnya lagi mungkin hampir mati. Dan itulah kenyataan yang kita alami, kita hadapi.

Pertanyaan sederhana bagi kita adalah sekarang ini kita masuk dalam kategori mana dalam perumpaan itu? Menjadi tanah? Tanah yang bagaimana? Atau menjadi duri? Atau menjadi burung? Atau bahkan menjadi batu yang menghimpit?

Untuk menjadi tanah yang subur dan menghasilkan banyak buat kiranya adalah sebuah perjalanan yang panjang. Rasanya tidak mungkin menjadikan sebuah lahan menjadi tanah yang subur dan seketika itu juga menjadi lahan yang menghasilkan buat berlipat-lipat.

Tetap harus ada proses, tahap demi tahap. Kesetiaan menjalani proses dan mengikuti proses itulah yang banyak menentukan apakan akan menjadi tanah yang baik atau tidak.

Sebuah tanah bisa menjadi tanah yang subur dan siap menghasilkan banyak buat memerlukan sebuah proses. Mulai dari diambil batu-batu yang menghalangi kesuburan, dicabut rumput-rumput liarnya.

Tidak jarang proses itu adalah proses yang menyakitkan. Supaya menjadi tanah yang bisa ditanami saja sering kali lahan itu harus dibajak berulang kali. Jika bisa berbicara, kiranya tanah itu sudah berteriak kesakitan.

Dan memang itu adalah proses yang menyakitkan, proses membongkar kemapanan yang tidak membuat pertumbuhan yang baik. Itu harus terjadi supaya ada transformasi menjadi tanah subur.

Gambaran itu kiranya bisa kita pakai dalam hidup kita. Pada dasarnya kita sudah dipilih menjadi lahan yang subur. Namun seringkali karena tidak diolah, kita justru menjadi tanah tandus, tanah gersang. Sekualitas apapun benih yang ditaburkan dalam diri kita, tidak akan bertumbuh dengan baik, bahkan justru mati sia-sia.

Proses manusiawi kita juga demikian, mungkin harus sampai merasa sakit untuk menjadi pribadi yang matang dan subur berkembang. Bisa jadi kita memerlukan pembajakan yang berulang kali sampai diri kita siap untuk ditanami benih.

Mari mohon rahmat Tuhan, agar kita mampu dan berani untuk dibongkar diri kita agar menjadi lebih baik. Mari mohon rahmat Tuhan agar kita juga mampu menerima sabda-Nya dan sabda itu berbuah dalam hidup kita.

Demikianlah Renungan Harian Katolik Rabu 20 Juli 2022.